Kolaborasi SMAN 1 Pulang Pisau, Orang Tua, dan Murid dalam Membangun Budaya Sekolah Aman, Nyaman, Berkarakter, serta Ramah Anak
PALANGKARAYA, 21 Juni 2026 – Sebuah ulasan mendalam dan penuh apresiasi disampaikan oleh Dr. Rusnanie, M.Pd. (Rose) pasca-pelaksanaan agenda penguatan mutu pendidikan di Bumi Handep Hapakat. Beliau membagikan pandangan holistik mengenai pentingnya sinergi tri pusat pendidikan demi mewujudkan ekosistem sekolah yang beradab dan berpihak pada anak.
Berikut adalah ulasan utuh dan refleksi mendalam dari beliau:
1. Apresiasi Tinggi untuk Inovasi SMAN 1 Pulang Pisau
Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada SMAN 1 Pulang Pisau, terkhusus kepada Kepala Sekolah Ibu Eva Riani, bersama Pengawas Pembina Bapak Made Pujangga, yang telah menggagas kegiatan Komunitas Belajar Kopi Pagi dengan tema “Growing Together in Harmony: Mengubah Tantangan Menjadi Jembatan Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman dalam Bingkai Sekolah Ramah Anak”.
Bagi saya, kegiatan ini sangat bermakna. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan guru-guru sebagai bagian penting dari ekosistem sekolah, tetapi juga melibatkan orang tua siswa dan perwakilan murid. Inilah bentuk nyata bahwa sekolah sedang membuka ruang dialog yang sehat, hangat, dan membangun. Pendidikan tidak lagi dibicarakan hanya dari sudut pandang sekolah, tetapi juga dari suara orang tua dan pengalaman anak-anak sebagai pihak yang langsung merasakan proses pendidikan itu sendiri.
Sebagai fasilitator kegiatan ini, saya merasa sangat bersemangat dan bahagia. Semangat itu muncul karena saya melihat langsung antusiasme orang tua dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Kehadiran mereka bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir dengan perhatian, kepedulian, dan kesungguhan untuk ikut memahami apa yang sedang dibangun oleh sekolah.
2. Antusiasme dan Refleksi Terbuka Orang Tua Siswa
Saya melihat antusiasme yang luar biasa dari orang tua siswa. Mereka hadir bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi menunjukkan kepedulian yang sungguh-sungguh terhadap proses tumbuh kembang anak. Bahkan, orang tua juga sangat mengapresiasi kegiatan ini dan ikut berefleksi secara terbuka. Bagi saya, ini menjadi bagian yang sangat penting karena refleksi bersama antara sekolah dan orang tua dapat melahirkan kesadaran baru bahwa mendidik anak tidak cukup hanya dengan memberi nasihat. Pendidikan anak membutuhkan kerja sama, keteladanan, komunikasi, dan komitmen yang konsisten.
Hal yang lebih membahagiakan lagi adalah munculnya komitmen bersama antara sekolah dan orang tua. Orang tua menyatakan dukungan terhadap program-program yang dilakukan oleh sekolah, terutama dalam upaya memperkuat budaya sekolah yang aman, nyaman, ramah anak, serta berpihak pada tumbuh kembang peserta didik.
Komitmen seperti ini sangat penting. Sekuat apa pun program sekolah, hasilnya tidak akan maksimal apabila tidak didukung oleh orang tua. Sebaliknya, kepedulian orang tua juga perlu disambut dengan keterbukaan sekolah. Ketika sekolah dan orang tua memiliki arah yang sama, maka anak-anak akan mendapatkan lingkungan pendidikan yang lebih utuh, baik di sekolah maupun di rumah.
3. Tanggung Jawab Kolektif di Ruang Tumbuh Anak
Kegiatan seperti ini adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Demikian pula orang tua tidak dapat menyerahkan sepenuhnya proses tumbuh kembang anak hanya kepada sekolah. Anak-anak kita bertumbuh dalam banyak ruang. Mereka belajar di kelas, dibentuk melalui lingkungan sekolah, tetapi juga dibesarkan dalam suasana keluarga dan masyarakat.
Karena itu, tanggung jawab terhadap kemampuan akademik, pembinaan karakter, pengembangan bakat dan minat, serta pembentukan sikap dan perilaku anak adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, murid, dan seluruh ekosistem pendidikan.
4. Menjawab Tantangan Teknologi Lewat Penguatan Karakter, Adab, dan Etika
Di tengah maraknya kemajuan teknologi, penguatan karakter anak menjadi semakin penting dan tidak boleh diabaikan. Anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang sangat terbuka, cepat, dan penuh pengaruh. Mereka dapat mengakses informasi, berkomunikasi, meniru perilaku, bahkan membentuk cara berpikir melalui teknologi dan media digital. Karena itu, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan pembinaan karakter yang kuat agar anak tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijak, santun, bertanggung jawab, dan mampu memilah mana yang baik, benar, serta bermanfaat bagi dirinya.
Kegiatan ini juga menjadi ruang penting untuk memperkuat karakter anak secara lebih utuh. Karakter tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan anak untuk patuh pada aturan, tetapi juga bagaimana anak belajar memahami nilai, membedakan yang baik dan yang tidak baik, bertanggung jawab atas pilihan serta perilakunya, dan mampu menempatkan diri secara tepat di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Dalam konteks ini, penguatan adab dan etika menjadi sangat penting. Anak-anak perlu dibimbing agar memahami cara berbicara yang santun, menghargai guru, menghormati orang tua, menghargai teman, menjaga sikap di ruang belajar, menggunakan media sosial secara bijak, serta menyadari bahwa kebebasan harus selalu berjalan bersama tanggung jawab.
Pendidikan karakter bukan hanya soal menegur ketika anak melakukan kesalahan, tetapi juga membimbing mereka agar memahami mengapa sebuah sikap perlu diperbaiki dan bagaimana mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Anak yang cerdas secara akademik tentu sangat kita harapkan, tetapi kecerdasan itu perlu berjalan seimbang dengan karakter yang baik.
Anak-anak perlu dibimbing agar tidak hanya mampu menjawab soal, tetapi juga mampu menghargai orang lain, berbicara dengan santun, bertanggung jawab atas pilihannya, serta memahami batas-batas perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan. Di sinilah peran sekolah dan orang tua harus saling menguatkan.
5. Mengukur Hakikat Keberhasilan Pendidikan
Saya percaya, keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari nilai rapor, prestasi akademik, atau capaian lomba. Lebih jauh dari itu, pendidikan harus mampu melahirkan anak-anak yang berkarakter, beradab, beretika, memiliki empati, mampu bekerja sama, menghargai perbedaan, serta memiliki kesadaran untuk menjaga martabat dirinya dan orang lain. Inilah fondasi penting dari budaya sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak.
Ketika semua pihak mau duduk bersama, mendengar, berbicara, dan berefleksi, maka tantangan pendidikan tidak lagi menjadi beban satu pihak, tetapi berubah menjadi jembatan kolaborasi. Orang tua dapat memahami dinamika sekolah. Sekolah dapat mendengar harapan orang tua. Murid pun mendapat ruang untuk merasakan bahwa dirinya didukung oleh lingkungan yang peduli.
Budaya sekolah yang aman dan nyaman tidak cukup hanya ditulis dalam tata tertib, program kerja, atau slogan. Budaya itu harus dihidupkan melalui keteladanan, komunikasi yang saling menghargai, disiplin positif, penghargaan terhadap suara anak, serta keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi proses pendidikan.
Di sinilah makna penting Sekolah Ramah Anak. Sekolah Ramah Anak bukan hanya label atau program administratif, tetapi sebuah komitmen untuk menjadikan sekolah sebagai tempat anak merasa aman, dihargai, dilindungi, didengar, dan diberi ruang untuk bertumbuh sesuai potensi terbaiknya.
Catatan Penutup Narasumber:
“Saya melihat Komunitas Belajar Kopi Pagi SMAN 1 Pulang Pisau bukan sekadar kegiatan pertemuan biasa. Ini adalah gerakan kecil yang memiliki makna besar. Dari ruang dialog seperti ini, sekolah sedang membangun budaya kolaboratif, humanis, dan reflektif. Guru hadir dengan hati. Orang tua hadir dengan kepedulian. Murid hadir dengan suara dan harapannya. Sekolah pun menjadi rumah bersama untuk menumbuhkan karakter, prestasi, adab, etika, dan masa depan anak-anak.
Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi praktik baik yang menginspirasi. Terima kasih untuk SMAN 1 Pulang Pisau, Ibu Eva Riani, Pak Made Pujangga, para guru, orang tua siswa, dan murid yang telah menunjukkan bahwa pendidikan terbaik selalu lahir dari kebersamaan.
Teruslah bertumbuh bersama dalam harmoni. Ketika sekolah dan orang tua berjalan seirama, anak-anak akan tumbuh lebih kuat, lebih santun, lebih berkarakter, lebih bahagia, dan lebih siap menghadapi masa depannya.”
Palangkaraya, 21 Juni 2026
By Rusnanie / Rose

